Thursday, May 27, 2010

Bola Sepak, Piala Dunia Dan Gerakan Dajjalisme

“Ketahuilah, bahawa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yg melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yg tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keredhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS Al-Hadid: 20)

Protokol Zionis versi Rothchild menyebutkan “Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mahu, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan mereka”

Dalam waktu tidak kurang sebulan lagi ruang publik kita akan dicanangkan dengan berita mengenai perlawanan bola sepak, baik di dada-dada akhbar mahupun dikaca-kaca televisyen. yang akan dan yang pastinya sebahagian dari kita baik sedar atau tidak sedar akan ikut terkulai dalam ruang imaginasi yang melalaikan.

Piala Dunia 2010 yang bakal berlangsung di Afrika Selatan saat ini memang belum dimulai, namun aroma atmosferanya sudah terasa menyengat di seluruh dunia dan tak terkecuali di negeri yang majoritinya Muslim ini. Para peminat bola mungkin saat ini tengah melakukan persiapan atau tepatnya ritual untuk menyambut tamu agung bernama piala dunia. Industri media cetak dan elektronik negeri ini pun tidak kalah sengit untuk ikut sama dan berpesta ria dalam balutan epistemologi kapitalisme dalam mengaut loba sebesar-besarnya menjelang piala dunia ini.

…Dajjal akan muncul sebagai individu, sebagai gejala sosial budaya global dan sebagai kekuatan ghaib yang tidak nampak pada mata kasar…

Aksi dan skill pemain bola sepak memang begitu memikat para peminat bola sepak. Mengapa tidak, bola sepak saat ini bukan hanya sebagai sukan tapi sudah menjadi agama baru buat mereka, pemain kesayangan mereka pula seolah-olah menjadi nabi seketika, bagaikan alam tidak sedar mereka berteriak memekak telinga “not only as sport but also as religion.” Jelas tidak hairan kalau kemudian Johan Cruijjf sang legendaris bola sepak yang berasal dari Belanda menyebutkan, “Mereka yang tidak mengerti bola sepak adalah mereka yang tanpa hati nurani.” Fakta  tersebut memang tidak mungkin diulas di sini, tapi penulis ingin mengatakan bahwa saat ini bola sepak sekarang sudah berkemungkinan menjadi agama baru bagi para penganutnya.

Contoh ringkas, berapa ramai peminat bola sepak yang mengutamakan waktu sembahyang setiap kali menghadiri sesebuah perlawanan? Jika perlawanan bermula pada pukul lapan malam, biasanya peminat setia sudah berada di dalam stadium sebelumnya. Mungkin sesetengah peminat sudah sembahyang sebelum menyaksikan perlawanan, mungkin ada yang keluar sebentar untuk menunaikan solat. Alhamdulillah, itu sebaiknya. Tetapi berapa ramai yang boleh keluar stadium ketika perlawanan hangat berlangsung. Tatkala azan isya' berkumandang, adakah perlawanan ditangguhkan untuk memberi laluan menunaikan solat? Mana yang diutamakan, melaksanakan perintah Tuhan atau terus menonton bola sepak? Jika perlawanan yang lebih penting, maknanya kita berTUHANkan bola sepak.

Bola Sepak, Piala Dunia  dan Sistem Dajjal

Ahmad Thomson dalam bukunya “Sistem Dajjal” menyebutkan bahwa Dajjal akan muncul sebagai individu, sebagai gejala sosial budaya global dan sebagai kekuatan ghaib yang tidak nampak. Dan saat ini muncul pula fenomena yang berkait dengan sosial, budaya, politik, pendidikan, ekonomi, hukum dan moral yang mengalami kekacauan (chaos) akibat dari kekuatan atau ideologi yang tidak nampak tadi. Sedangkan Dajjal sebagai individu menurut Thomson memang saat ini belum nampak dengan mata kasar. Namun apa yang harus diberi perhatian bahawa dalam sistem Dajjal ini nilai-nilai yang ditawarkannya adalah bersangkut paut dengan nilai paradoks yang merosakkan  iman dan tauhid, semuanya berbasis syahwat, materialistik serta berusaha mengiring manusia kepada kekufuran, kerana memang worldview dari sistem Dajjal ini adalah kekufuran sejati.

Lalu bagaimana relevanya gerakan Dajjalisme ini dengan fenomena bola sepak di atas atau katakanlah dengan piala dunia yang sebentar lagi akan membuat setiap sudut bumi gegak gempita dari timur dan barat, selatan maupun utara. Sejenak mari kita review kembali ingatan kita akan fenomena kerosakan moral dan sosial akibat gerakan Dajjalisme di lapangan hijau ini baik di tingkat dunia mahupun lokal.

…fatwa mufti Al-Azhar yang mengharamkan fanatik bola terhadap para penyokong Mesir, ternyata tidak mendapat tanggapan...

Mungkin masih hangat dalam ingatan kita bagaimana fatwa mufti Al-Azhar yang mengharamkan fanatik bola sepak terhadap para penyokong Mesir ternyata tidak mendapat respon, yang terjadi malah sebaliknya, para penyokong fanatik bola sepak dari negeri piramid itu justeru terlibat dengan rusuhan dengan sesama penyokong negara jiran mereka (tanah Arab) setelah pertandingan prakelayakan piala dunia yang dimenangkan Al Jazair November 2009 lalu, yang menariknya, dominasi bola sepak rupanya lebih diambil kira berbanding fatwa mufti.

Rusuhan antara penyokong akibat terlalu fanatik bola sepak bukan hal yang aneh lagi dalam ingatan kita, Tragedi Heysel, Belgia, pada Piala Champions Eropah  tahun 1985 memakan korban yang memilukan, disusuli empat tahun kemudian meletus tragedi  Hillsborough dikota Sheffield di mana pendukung fanatik Liverpool terbunuh akibat pergaduhan gara-gara tumpas dalam perlawanan bola sepak. Kemudian mari kita tengok bumi pertiwi kita ini, fenomena rusuhan Jakmania, The Viking, Bobotoh atau Bonek, Aremania, Hooligan Mania, ikut mewarnai kerusakan moral dan sosial akibat “agama baru” bernama bola sepak ini. Bahkan di negara jiran Malaysia juga tidak kurang hebatnya dengan rusuhan-rusuhan peminat bola sepak.

Pasukan yg akan  bertanding merebut World Cup Africa 2010

Kemudian mari  kita berjalan-jalan sejenak ke negara Jerman, umat Muslim Jerman  menjadi saksi atas perlecehan terhadap Islam dan Rasulullah yang dilakukan oleh penyokong kelab Schalke dalam bait-bait lagu kelab mereka, di mana dalam lagu tersebut tersembul bait yang menyebutkan, “Muhammad adalah seorang Nabi yang tidak memahami bola sepak.” Namun dari semua warna yang ada Nabi memilih warna kebesaran Schalke, biru dan putih,” jelas hal tersebut merupakan penghinaan dan membuat Muslim Jerman marah.

…Lagi-lagi teori bola sepak sudah menjadi “agama baru” bukan hanya sekadar acara sukan bagi para peminat fanatiknya…

Lagi-lagi teori bola sepak sudah menjadi “agama baru” bukan hanya sekadar acara sukan bagi para fanatiknya. Dalam piala dunia nanti entah mana lagi yang akan dijadikan ikutan fanatisme dan teori  “agama baru”  tersebut dan kita pun dipaksa untuk “mengimaninya". Yang pasti, kiblat dunia bakal beralih ke Afrika Selatan dalam masa tak sampai sebulan lagi.

Kegilaan Piala Dunia dan nasib Umat Islam yang tertindas

Agaknya gurauan seorang ustaz tempoh hari cukup geli hait bila teringatkan, beliau mengatakan bahawa saat piala dunia tengah berlangsung maka dapat dipastikan sebahagian umat Islam akan rajin “qiyamulail” setiap malam, kiblatnya adalah televisi dan wiridnya adalah teriakan “Goaalllll…!!! Goaaallll.. atau mungkin wirid lain yang membuatnya lebih khusyuk sampai matahari pagi tersenyum kepadanya.

…sebagian umat Islam akan rajin qiyamulail setiap malam, kiblatnya adalah televisi dan wiridnya adalah teriakan “Goaalllll…!!! Goaaallll…

Namun di saat yang sama di belahan bumi Islam di luar sana, Palestin, Iraq, Afghanistan, Patani Thailand dan lainnya tengah berkecamuk mempertahankan akidah dan berlumba-lumba menjemput syahid fi sabilillah demi membeli surga Allah dengan titisan darahnya. Mereka berjuang melawan kebiadaban tentara Zionis, berhadapan dengan mortar mematikan yang siap menyalak setiap saat menhantar para mujahidin menuju syahid fi sabilillah. Sedangkan kita masih  terlena dalam buaian Dajjalisme berselimut kegilaan melayan bola sepak sambil berteriakan dalam igauan mimpi... Goaaaalllllll…!! Wallahu a’lam

Penulis adalah Anggota Kajian Zionisme International (KaZI), Alumni SMUN 1 Jasinga - Bogor Indonesia

Artikel ini diedit daripada tulisan asal penulis Ruyatna

No comments:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails